Kisah Kerajaan yang Tenteram dan Damai

Alkisah di suatu negeri antah berantah, ada seorang raja yang memerintah dengan baik. Dia melaksanakan pemerintahan dengan adil dan jujur. Ia menjadi teladan pemimpin yang baik. Seluruh masyarakat juga mengikuti teladan baik dari sang raja itu. Hidupnya, secara pribadi, mengikuti ajaran yang baik dari Dewa sesembahan satu-satunya yang ada di negeri itu. Hal itulah yang membuat kerajaan itu semakin makmur dan tenteram. Karena sang raja memiliki kebijakan bahwa tidak ada yang lain yang patut disembah selain Dewa itu. Segala hal yang tidak berhubungan dengan ibadah penyembahan Dewa itu dimusnahkan dan dihancurkan tanpa mengenal kompromi. Bahkan ada aturan tegas bahwa jika ada orang yang menyembah Dewa itu, pasti akan dihukum mati. Karena Dewa itu telah mengaruniakan keamanan dan kedamaian atas kerajaan itu. Bahkan musuh-musuh dari kerajaan lain, tidak berani mengusik ketenteraman dan kedamaian negeri itu.
Pada suatu ketika sang raja jatuh sakit dan hampir meninggal. Lalu seorang utusan dari Dewa itu datang dan menyampaikan pesan kepada raja itu. Katanya,
"Wahai sang raja yang agung, sudilah kiranya engkau menyampaikan pesan yang terakhir. Karena sebentar lagi, engkau akan meninggalkan negeri ini untuk selamanya."
Mendengar hal itu, sang raja hanya tertunduk dan terdiam. Ia menyadari bahwa masa hidupnya akan berakhir karena penyakit parah yang diderita olehnya dan rasanya tidak mungkin untuk sembuh. Lalu utusan itu pergi, setelah utusan itu pergi, sang raja mengurung diri di dalam kamar dan menyuruh orang-orang pelayan kerajaan itu keluar dari kamarnya. Kini tinggal ia sendirian dalam kamar. Dalam perenungananya itu, ia mulai memanjatkan doa kepada Dewa satu-satunya, katanya,
"Wahai Dewa yang agung dan mulia, yang bersemayam tinggi di dalam khayangan. Tiada dewa lain yang patut kami sembah selain daripada Engkau. Sebab, oleh karena Engkaulah, kerajaan yang aku pimpin ini mendapatkan anugerah ketenteraman dan kedamian, bahkan musuh-musuh kami merasa takut dan gentar akan kerajaan ini. Wahai Dewa yang agung, ingatlah akan perbuatan baik yang telah kami lakukan yaitu dengan melakukan segala perintahMu dan ketetapan-ketetapan yang telah Emgkau berikan kepada kami. Agar kami mendapatkan ketenteraman dan kedamaian di kerajaan kami. Kamipun dengan taat dan setia mematuhi itu semua. Bahkan kami tiada berkompromi dengan sesembahan dan dewa lain selain daripada Engkau. Maka dari itu, Wahai Dewa yang agung, Engkau melihat keadaan hambaMu ini, yang sedang menderita sakit parah bahkan maut hendak merenggut nyawa hambaMu yang lemah dan tak berdaya ini. Karena aku percaya bahwa hanya Engkau saja yang samggup menolong hambaMu ini. Sehingga dapat melanjutkan pemerintahan kerajaan ini oleh karena anugerah yang Engkau berikan kepada kami. Wahai Dewa yang agung, saat ini hamba datang dan bersujud dengan bercucuran air mata memohon akan belas kasihanMu. Supaya aku dan kerajaan ini memperoleh anugerah kemurahanMu. Wahai Dewa yang agung, hamba mohon sudilah kiranya Engkau memperhatikan hambaMu ini dan berkenan mengabulkan permohonan hambaMu ini agar hambaMu beroleh kesembuhan dan dapat kembali memrintah di kerajaan ini. Sehingga kami dapat menikmati ketenteraman dan kedamian yang Engkau anugerahkan atas kerajaan kami. Wahai Dewa yang agung, kabulkanlah permohonan hambaMu ini."
Setelah selesai mengucapkan doa itu, sang raja kembali ke peristirahatannya dan pelayan kerajaan melayani sang raja itu. Belum lagi utusan itu tiba di rumahnya, lalu datanglah ilham dari Dewa itu. Dalam ilham itu mengatakan bahwa doa sang raja telah dikabulkan. Sang raja akan kembali sembuh dan sehat serta dapat meneruskan pemerimtahannya atas kerajaan itu. Namun bukan hanya kesembuhan yang dianugerahkan kepada sang raja itu, tetapi juga anugerah perpanjangan usia sehingga sang raja dapat memerintah lebih lama lagi.
Dengan segera, utusan itu menemui sang raja dan menyampaikan ilham yang ia dapatkan dari sang Dewa. Ia menyampaikan tepat dan sesuai dengan ilham yang ia dapatkan itu. Lalu utusan itu meletakkan tangannya atas raja itu dan raja itu menjadi sembuh dan dapat melanjutkan pemerintahannya.
Hingga beberapa waktu kemudian ada kerajaan lain yang berniat menyerang dan menguasai kerjaaan itu. Mereka mengirimkan utusan untuk menyampaikan pesan kepada kerajaan itu, yaitu pesan agar menyerah dengan damai. Sebeb kerajaan yang akan menyerang dan mengusai kerajaan itu adalah kerajaan yang kuat dan telah menaklukan kerajaan-kerajaan lain. Pesannya demikian,
"Dengarlah, wahai rakyat kerajaan ini. Kami datang dengan seluruh kekuatan kami. Jangan melawan, karena kekuatan kami jauh lebih kuat daripada kalian. Kami tidak ingin timbul banyak korban pertumpahan darah. Maka dari itu, segeralah menyerah dengan damai. Adakah kekuatan kalian samggup untuk melawan kami? Kami telah mengalahkan banyak kerajaan bahkan mereka berusaha mencari perlindungan para dewa yang mereka sembah, namun hal itu sia-sia saja. Mereka bahkan sanggup kami kalahkan dengan kekuatan kami. Maka dari itu, sia-sialah kalian apabila mencari perlindungan dari Dewa sesembahan kalian. Dewa yang kalian sembah tidak akan memberikan perlidungan yang berarti bagi kami. Maka dari itu, menyerahlah dan taklulah kepada kami. Percuma kalian melawan kami, sebab kami.ini kuat dan tidak mungkin kalian sanggup melawan kami bahkan dengan Dewa yang kalian sembah sekalipun. Menyerahlah dan takluklah kepada kami."
Setelah mereka menyampaikan pesan itu, para rakyat dan para pemimpin kerajaan hanya bisa terdiam. Tak sepatah katapun terucap di bibir mereka. Lalu para utusan itu pergi dari kerajaan itu dan segera bersiap mengepung kerajaan itu dengan kekuatan penuh.
Mendengar hal itu, sang raja segera masuk ke dalam kuil. Ia bersujud dan tersungkur di depan mezbah Dewa. Dan berkata,
"Wahai Dewa yang agung. Engkau mendengar pesan yang disampaikan oleh utusan kerajaan ini. Engkau sendiri mengetahui bahwa kerajaan ini sedang mengalami kesesakan oleh karena mereka berusaha menaklukan kerajaan ini dengan kekuatan penuh dan tak akan mungkin kami sanggup melawa mereka. Terlebih, mereka juga mengatakan bahwa Dewa yang kami sembah tak akan mampu menolong kami dari tangan mereka. Sebab banyak kerajaan yang telah mereka taklukan, karena mereka adalah kerajaan kuat dan tangguh. Maka dari itu, kami datang dan merendahkan diri kepadaMu, wahai Dewa yang agung. Memohon pertolongan dan perlindungan daripada Engkau. Sebab ketenteraman dan kedamaian kerajaan ini adalah anugerah dariMu, wahai Dewa yang agung. Kiranya Engkau berkenan menjauhkan kami dari ancaman tersebut. Dan tetap mengaruniakan ketenteraman dan kedamaian atas kerajaan kami ini, karena kami senantiasa taat dan setia mengikuti apa yang Engkau perintahkan kepada kami. Wahai Dewa yang agung, sudilah kiranya Engkau mengabulkan permohonan kami ini."
Lalu sang Dewa mendengar permohonan itu dan mengabulkannya. Sang Dewa mengacaubalaukan seluruh pasukan yang sedang mengepung dan hendak menyerang kerajaan itu. Mereka dibuatNya membunuh satu dengan yang lain. Sebab pikir mereka bahwa kerajaan yang akan mereka serang itu telah mengadakan aliansi dengan kerajaan yang lain. Sehingga mereka merasa takut dan panik, dan menyebabkan kekacauan di antara mereka bahkan mereka saling membunuh. Oleh karena kekacauan itulah menyebabkan mereka tidak jadi menyerang kerajaan itu. Lalu terluputlah kerajaan itu dari ancaman kerajaan lain sehingga kerajaan itu kembali tenteram dan damai oleh karena Sang Dewa yang Agung.
Beberapa waktu kemudian, datanglah utusan kerajaan lain kerajaan itu. Sang raja menyambut dengan baik utusan itu karena datang dengan cara damai. Lalu sang raja menjamu utusan itu dengan baik dan ramah. Utusan itu beaksud hanya mengunjungi kerajaan itu karena mereka telah mendengar bahwa kerajaan itu tenteram dan damai. Seakan merasa bangga dengan sanjungan itu, maka sang raja berkenan untuk memperlihatkan seluruh istana kepada utusan itu, tanpa terkecuali. Karena ingin menunjukkan bahwa kerajaan itu memang tenteram dan damai. Utusan itu merasa puas dan kembali menyanjung hasil pencapaian dari sang raja itu. Lalu utusan itu berpamitan untuk kembali ke kerajaan mereka.
Namun setelah mereka pergi, utusan Sang Dewa yang Agung menghadap sang raja dan bertanya mengenai utusan kerajaan lain yang datang itu. Kemudian sang raja dengan bangganya menceritakan semuanya. Utusan Sang Dewa yang Agung itu mendengarkan secara seksama. Tapi setelah mendengarkan cerita sang raja itu, berkatalah utusan Sang Dewa yang Agung,
"Paduka sang raja yang mulia, apakah sang raja sudah mempertimbangkan tindakan sang raja yang seperti itu? Sebab kita sendiri maksud dan tujuan mereka datang kemari. Siapa tahu mereka memiliki maksud dan tujuan yang lain selain hanya sekadar melihat-lihat saja. Maksud hamba ini adalah kita harus tetap waspada saja, bukan maksud mencurigai. Namun setidaknya dengam sikap waspada ini, hanya untuk berjaga-jaga saja. Mumgkin memang ada maksud lain di balik itu semua. Hamba mohon kepada sang raja, agar senantiasa waspada dan berjaga-jaga untuk segala kemungkinan yang akan terjadi. Supaya kerajaan ini tetap tenteram dan damai."
Mendengar hal itu, sang raja berkata,
"Memang baik nasehatmu, wahai utusan Sang Dewa yang Agung. Namun ketahuilah, selama aku memerintah kerajaan ini pastilah tenteram dan damai."
Memang benar, selama sang raja itu hidup memerintah. Kerajaan tetaplah tenteram dan damai. Namun setelah sang raja mangkat, keadaan kerajaan menjadi kacau. Ini disebabkan sang raja tidak mempersiapkan penggantinya setelah sang raja mangkat. Bahkan ternyata utusan itu bermaksud mengintai untuk mencari celah untuk menaklukkan kerajaan itu. Lebih parahnya lagi, kerajaan itu meninggalkan bahkan melupakan ibadah penyembahan kepada Sang Dewa yang Agung dan malah menyembah dewa lain. Sehingga kerajaan itu runtuh dan ditaklukan kerajaan lain yang lebih kuat.

©Lunar Solarius
+6281230188946

Comments

Popular posts from this blog

Tak Semudah Membalik Telapak Tangan

Petualangan Adigunawan (Chapter 001)