Petualangan Adigunawan (Chapter 001)
Petualangan Adigunawan, Ksatria Pedang
Chapter 001
Hari menjelang senja. Sang surya mulai menuju peraduan di ufuk barat. Ia masih saja melangkah dengan penuh semangat. Di sebuah hutan di area perbukitan itu, ia terus mennyusuri, dan hendak mencari desa terdekat agar bisa beristirahat sehingga esok bisa melanjutkan perjalanan.
Ia merasa lelah Setelah seoanjang hari menempuh perjalanan dari desa sebelumnya menuju desa selanjutnya.
Ia bernama Adigunawan, ia adalah seorang ahli pedang yang sangat terlatih. Hal yang melatar belakangi ia pergi berpetualang adalah pada saat masa lalu, desanya diserang oleh segerombolan makhluk aneh. Banyak penduduk desa yang menjadi korban keganasan gerombolan makhluk itu. Mereka berwujud monster yang sangat menyeramkan dan tak segan-segan menghabisi apa saja yang menghalanginya. Hari itu Adigunawan sedang berburu untuk menjadi makan malam. Namun sayangnya, ketika ia kembali, desanya sudah hancur lebur. Yang tersisa hanyalah puing-puing dan reruntuhan dari rumah warga desa. Ia melihat banyak sekali warga yang menjadi korban keganasan makhluk itu.
Segera ia bergegas menuju ke rumahnya, ia tak menemui siapapun. Rumahnya sudah hancur terbakar. Ia mencari ayah dan ibunya, namun tidak ia junpai, baik ayah dan ibunya maupun jenazahnya. Ia berusaha terus mencari, namun sia-sia saja. Air matanya mulai menetes, dan iapun menangis sejadi-jadinya karena merasa kehilangan orang yang dicintai dan disayanginya. Hatinya sangat sedih dan terpukul karena peristiwa yang menghancurkan desa dan keluarganya.
Kini ia hanya tinggal sebatang kara saja. Kedua orang tuanya telah tiada entah kemana. Orang tua yang merawat sejak ia kecil hingga dewasa dan menjadi ahli pedang (swordman). Ayahnya seorang pandai besi yang cakap membuat senjata dan peralatan lainnya, ia juga yang mengajari bagaimana bertarung menggunakan pedang. Bahkan ayahnya membuatkan pedang untuk dia di hari ulang tahunnya. Sedangkan ibunya mendidik dia sebagai ksatria yang memiliki moral dan akhlak yang baik. Sehingga kelak ia memiliki jiwa ksatria yang sejati, yang menjunjung moral dan akhlak saat bertarung, bukan hanya dengan emosi saja.
Lalu ia segera bangkit dan menuju sebuah ruangan rahasia milik keluarganya. Iapun masuk dan mengambil satu pedang buatan ayahnya. Kemudian ia segera mengbil beberapa perbekalan dan pergi dari desa itu. Sebelum ia pergi, ia dengan beberaoa warga yang selamat menguburkan warga yang menjadi korban. Ia berpesan keoada mereka, agar senantiasa menjaga desa itu walau keadaannya sudah hancur. Sedangkan ia akan pergi mencari penyebab kehancuran desanya dan membalaskan dendam atas apa yang terjadi pada desanya itu.
Sang surya sudah mulai masuk di ufuk barat. Akhirnya, ia menemukan suatu desa dimana ia bisa menginap malam itu.
Dan malampun menjelang dan mulai meliputi desa itu.
Sayup-sayup mulai terdengar binatang malam seakan menyambut malam. Rembulan mulai menampakkan wajahnya dan menerangi gelapnya malam dan sunyi di deaa itu.
Adiguwan menumpang di rumah kepala desa. Bapak kepala desa itu mengajak makan malam, seusai makan malam.
Klaeduanya terlibat dalam percakapan.
"Nak, sampean mau kemana dan asalnya dari mana?" tanya bapak kepala desa.
"Saya berasal dari Desa Gunadharma, hendak mencari siapa yang telah menghancurkan desa saya dan membunuh ayah dan ibu saya." jawab Adigunawan. Lalu ia menceritakan tentang kehancuran desanya dan kedua orang tuanya yang telah tiada. Kepala desa itu hanya termanggut-manggut mendengar cerita itu. Tanpa sadar, malam makin larut. Lalu Adigunawan meminta ijin untu berustirahat dan kepala desa itu mempersilahkannya. (Bersambung….)
Comments
Post a Comment