Harapan Seorang Veteran
Pria tua itu manatap tajam ke arah bendera merah putih yang sedang dipasang di halaman rumahnya. Cucunya yang sedang beranjak dewasa, dengan cekatan memasang bendera merah putih. Pemasangan bendera merah putih itu bertujuan untuk menyambut Hari Kemerdekaan Indonesia, seperti kebiasaan pada umumnya di bulan Agustus setiap tahunnya. Selain itu, sang cucu juga memasang umbul-umbul dan pernak-pernik yang bernuansakan merah putih sebagai wujud memeriahkan perayaan kemerdekaan bangsa Indonesia.
Hari itu adalah hari minggu, dimana warga kampung bergotong royong kerja bakti menghias kampung itu dengan pernak-pernik merah putih. Ada yang menghias gapura, ada yang membersihkan jalan kampung, ada yang memasang ornamen-ornamen penghias yang bernuansakan nasionalisme dan ibu-ibu sedang sibuk mempersiapkan makanan dan minuman untuk warga kampung yang sedang kerja bakti.
Mereka bahu membahu membuat kampung itu seindah mungkin dalam rangka menyambut peringatan kemerdekaan Indonesia. Semua kalangan masyarakat warga kampung turut andil dalam kerja bakti itu. Tak terkecuali pria tua itu yang turut serta dalam kerja bakti. Hingga menjelang siang, kerja bakti itupun selesai. Lalu mereka menikmati hidangan yang telah disediakan ibu-ibu PKK kampung itu. Mereka bercengkrama satu dengam yang lain. Menambah hangatnya suasana kala itu. Setelah selesai membereskan semuanya, mereka kembali ke rumahnya masing-masing untuk beristirahat. Sedangkan pria tua itu duduk di pos kamling sembari melihat lingkungan kampung yang berhiaskan pernak-pernik merah putih. Lalu sang cucu mendekat pada kakeknya yang sedang duduk di pos kamling. Ia melihat sang kakek menitikkan air mata. Dengan sigao, cucu itu segera menyodorkan saputangan kepada kakeknya.
"Ada apa Kek? Kok malah menagis?" tanya sang cucu.
"Ah, tidak kok." kata kakek itu sembari menerima saputangan itu dan mengusap air matanya.
"Ayo kita pulang." lanjutnya sambil berdiri dan mengajak cucunya pulang.
Sang cucu hanya mengagguk saja sambil mengikuti kakeknya pulang. Sesampainya di rumah, keduanya duduk di teras rumah.
Sang kakek hanya bisa termenung. Lalu iapun bercerita kepada cucunya.
"Aku jadi teringat waktu dulu. Sewaktu kakek masih muda dan berjuang mempertahankan kemerdekaan dari tangan penjajah yang ingin menjajah kembali. Waktu itu, aku yang masih muda pergi mengangkat senjata untuk melawan Belanda. Setelah Jepang menyerah kepada Sekutu, kami segera merampas senjata milik Jepang untuk melawan Belanda dan sekutunya. Tampaknya Belanda ingin kembali merebut tanah jajahannya itu. Waktu itu banyak pemuda bekas tentara PETA dan Fujinkai bersatu padu berjuang mempertahankan kemerdekaan. Ternyata ancaman yang muncul bukan hanya dari pihak Belanda saja, namun juga ada ancaman dari dalam yaitu munculnya pemberontakan-pemberontakan di beebagai daerah. Mereka bukannya membantu perjuangan kami dalam mempertahankan kemerdekaan dan kedaulatan Republik Indonesia ini, tapi justru malah melemahkan keberadaan negeri ini. Agresi militer pertama dan perundingan di atas kapal USS Renville yang hasilnya malah mengkerdilkan wilayah kedaulatan bangsa ini. Waktu itu ibukota negara pindah dari Jakarta ke Yogyakarta. Berdasarkan perjanjian Renville, banyak tentara Indonesia yang ditarik ke Yogyakarta dan Jawa Tengah. Karena masalah itulah yang menyebabkan perdana menteri Amir Sjarifudin mundur dan malah ikut serta dalam pemberontakan PKI di Madiun pada 19 September 1948. Ia bersama Muso malah memplokamirkan Republik Indonesia Soviyet yang berhaluan komunis. Lalu oada tanggal 18 Desember 1948, Belanda malah melanggar pwrjanjian Renville dengan melancarkan Agresi Militer II ke Yogyakarta. Waktu itu para pemimpin bangsa ditangakap dan diasingkan. Sementara pemerintahan dijalankan di Bukittinggi, Sumatera Barat sambil berusaha melakukan perundingan internasional. Sepertinya Belanda memafaatkan situasi bangsa Indonesia yang sedang bergejolak karena pemberontakan oleh oknum-oknum bangsa sendiri. Agresi Militer Belanda Ii memang telah merebut dan menguasai ibukota negara, yaitu Yogyakarta. Namun ternyata Serangan Umum 1 Maret 1949 oleh Sri Sultan Hamengkubuwono IX bersama dengan Letkol Soeharto menunjukkan eksistensi kedaulatan Republik Indonesia, sehingga akhirnya Belanda mengakui kedaulatan Indonesia melalui perjanjian Konfrensi Meja Bundar. Sejarah perjuangan merebut dan mempertahankan kemerdekaan itu bukan hal yang mudah. Banyak rekan-rekan seperjuanganku yang gugur membela tumpah darah tanah air Indonesia. Mereka berjuang hingga berkorban nyawa demi kedaulatan Indonesia. Bukan hanya ancaman dari Belanda, tetapi juga nacaman dari dalam yang menjadi tantangan yang berat dalam perjuangan menjaga kemerdekaan dan kedaulatan bangsa ini. Baru setelah peristiwa Irian Barat kembali ke pangkuan ibu pertiwi ini, bangsa ini mulai berbenah diri. Hingga kita bisa menikmati jerih payah dari kemerdekaan dari bangsa asinh. Namun sayangnya, kenapa justru yang terjadi pada masa sekarang ini malah sesama bangsa Indonesia saling memangsa satu dengan yang lain hanya karena kepentingan pihak tertentu dan malah kepentingan diri sendiri. Mereka malah menibdas dan menjajah bangsa sendiri. Apakah kita sudah benar-benar merdeka?" kata kakek itu yang juga adalah veteran perang mempertahankan kemerdekasn, ikut serta nemadamkan api pemberontakan di beberapa daerah, hingga operasi Trikora untuk membaskan Irian Barat dari tangan Belanda.
"Lalu bagaimana dengan perjuangan kami hingga banyak yang gugur demi mempertahankan kedaulatan Negara Kesatuan Republik Indonesia yang berlandaskan kepada Pancasila yang dirumuskan dari Piagam Jakarta dan kemudian menjadi dasar UUD 1945 oleh Pantia Sembilan yang ditunjuka oleh Jepang melalui Badan Persiapan Usaha-Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia atau BPUPKI yang bahasa Jepangnya disebut Dokuritsu Junbi Kosa Kai yang kemudian berubah menjadi Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia atau PPKI yang juga disebut dalam bahasa Jepang Dukoritsu Junbi Inkai paska bertekuk lututnya Jepang terhadap Sekutu karena Hiroshima pada tanggal 6 Agustus 1945 di bom atom oleh Sekutu, menyusul Nagasaki pada tanggal 9 Agustus 1945. Lalu pada jaman kemerdekaan ini gemerasi muda harusnya meneruskan cita-cita para pahlawan dengan turut amdil bagian dan berpertisipasi dalam pembangunan negeri ini yang dicanangkan oleh Bapak Presiden Soeharto yang kita kenal sebagai Bapak Pembangunan melalui Pembangunan Lima Tahun atau Pelita yang pencapaiannya tinggal memasuki fase tinggal landas. Eh malah karena reformasi jadinya krisis moneter. Kerusuhan terjadi. Bulan Mei 1998 merupakan peristiwa yang kelam bagi negara ini. Pak Harto dilengserkan, gedung DPR/MPR diduduki oleh para mahasiswa yang menuntut Pak Harto lengser, terjadi krisis ekonomi hingga mata uang Rupiah jatuh turun bebas dengan dollar. Terjadi kerusuhan, penjarahan dan pemerkosaan terhadap kaum etnis Tionghoa. Kok setelah peristiwa yang mengatasnamakan reformasi negara malah mengalami kemunduran. Untungnya bisa diatasi. Walau setelah itu, para koruptor merejalela. Jaman Pak Harto dulu malah ga ada. Malahan dulu ada yang namanya Petrus atau Penembak Misterius. Kalau ada perkumpulan yang mengindikasikan akan adanya makar, langsung diciduk dan tanpa ampun. Sekarang reformasi atau kebebasan malah disalah artikan. Ibarat kuda lepas dari kekangnya, eh malah keblinger dengan kebebasan itu atau malah kebebasan itu jadi kebablasan. Apalagi di jaman yang canggih seperti ini. Banyak anak muda yang terbius dengan kecanggihan teknologi sehingga mereka meninggalkan jati diri bangsa ini yang sejati. Malah ngikuti budaya asing. Katanya kalau tidak seperti itu tidak gaul dan modern. Dianggap ketinggalan jaman dan kuno. Padahal malah banyak orang asing yang justru belajar budaya kita ini. Harusnya kita merasa malu. Maka dari itu kita harus bangga, menjunjung tinggi nilai luhur budaya kita. Terutama tatanan etika moral yang sudah turun temurun lestari sepanjang masa. Kita memang tidak boleh alergi dengan kebudayaan lain, namun kita tetap menjaga budaya yang sejati dari bangsa ini yang terdiri banyak suku, agama dan ras. Kita juga harus menghargai perbedaan sebagai suatu hal yang melengkapi untuk menjaga keutuhan kedaulatan Negara Kesatuan Republik Indonesia yang majemuk dan plurar. Jangan sampainkarena perbedaan itu menjadi konflik yang justru memecah keutuhan bangsa ini. Apalagi merada benar sendiri dan menanggap yang lain salah. Maka dari itu, mari kita berbenah dan belajar dari masa lalu untuk melangkah lebih maju ke depan. Agar bangsa kita ini bukan hanya disebut bangsa berkemmbang namun juga disebut negara maju yang mampu bersaing secara sehat di kancah internasional dengan sumber daya manusia yang berkualita, bukan hanya berkuakitas dari segi intelektual namun juga moral dan karakter. Ya semoga bisa terwujuf nanti, meskipun aku nanti beristirahat dengan tenang. Biarlah anak cucu yang meneruskan dan menikmati hasil keringat dari prmbangunan negeri ini dan mewujudkan kesejahteraan yang merata disemua kalangan lapisan masyarakat dan dapat mewujudkan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Semoga negeri ini aman sentosa." kata kakek itu sembari meintikkan air mata. Dalam hatinya terus berharap bahwa bangsa ini bisa menjadi lebih baik. Lalu sang kakek kembali ke kamarnya dan beristirahat.
Comments
Post a Comment