Kisah Samiaji, Seorang Perantau
Lalu pemuda itu mulai menuliskan sebuah kisah. Ia ridak peduli apakah nanti ada yang mau membaca kisahnya atau tidak. Lalu ia segera menulis.
"Ada seorang muda, namanya Samiaji. Ia tinggal di suatu kota kecil. Ia bukan berasal dari kota itu, namun ia hanya seorang perantau yang hanya ingin mengadu nasib di kota itu. Dengan harapan, mendapat kehidupan yang lebih baik. Ia berusaha mencari kerja di kota itu, apa saja yang ia bisa kerjakan hanya untuk sekadar menyambung hidup.
Lalu, ia mendapat sebuah pekerjaan. Di tempat kerjanya itu, ia bekerja dengan sangat baik. Ia mampu menyelesaikan pekerjaan yang dipercayakan padanya. Namun sayangnya, ia belum mendapatkan apa yang layak dia terima. Alasannya, usaha yang dijalankan di tempatnya itu tergolong baru merintis. Awalnya dia bisa memaklumi, karena sedang merintis usaha. Namun seiring berjalannya waktu, ternyata usaha itu sulit berkembang. Dampaknya adalah pada kesejahteraan karyawan. Pengelolaan manajemen yang kurang baik, memperparah keadaan, tak terkecuali Samiaji yang telah bekerja keras mendedikasikan dirinya di tempat itu. Ia kerap kali bekerja lebih, kadang diapun rela lembur hingga sempat jatuh sakit. Harapannya agar tempat dimana dia bekerja itu, bisa lebih baik dan kesejahteraannya bisa lebih baik. Bukannya malah lebih baik, yang terjadi malah lebih buruk. Karena kerap kali timbul konflik kepentingan yang sebenarnya tidak perlu terjadi.
Namun ia berusaha menyelesaikannya dengan baik, walaupun sering kali usahanya untuk memperbaiki keadaan malah diabaikkan. Hal itu berimbas pada masalah kesejahteraan Samiaji. Kerap kali ia berusaha mencari pertolongan orang lain. Sebenarnya dia tidak mau melakukannya, tapi keadaan yang sering kali memaksa dia berbuat demikian. Tindakannya ini justru dianggap sebagai perbuatan yang memalukkan. Berulang kali ia mendapat teguran dari pimoinan, namun sayangnya tidak ada tindak lanjut atapun solusi yang konkret akan masalah itu. Seharusnya pimpinan atau pemilik usaha ith harusnya memikirkan dan mengupayakan bagaimana caranya agar bisa menyelesaikan masalah kesejahteraan karyawannya itu. Bukan hanya teguran tanpa ada oenyelesaian yang justru munculnya rasa sakit hati. Dalam keadaan ini, Samiaji berusaha bersabar dan bertahan. Namun karena ia terpaksa mencari pertolongan, stigma negatif teroaksa harus ia tanggung. Kini, ia mendapat citra negatif. Bukan karena dia berbuat jahat, tapi karena terpaksa ia mencari pertolongan hanya untuk sekadar memenuhi kebutuhan sehari-hari. Karena apa yang dapatkan dari hasil kerjanya itu tidaklah cukup hanya untuk memenuhi kebutuhan sehari-harinya. Ia teroaksa melakukan itu karena keadaan yang memaksanya demikian.
Sebenarnya banyak orang yang kasihan kepada dia, namun ia mencoba bertahan dengan harapan bahwa keadaan bisa menjadi lebih baik lagi. Ia rela dicap dengan stigma negatif bahkan ia pun rela dianggap sebagai orang yang mempermalukan. Semua itu ia lakukan, supaya tempat kerjanya itu mengerti dan bisa memberikan solusi konkret. Karena imbasnya bisa membuat tempat kerjanya itu bisa lebih baik lagi, dengan memperhatikan kesejahteraan karyawannya. Ia berpikir bahwa apabila kesejahteraan karyawannya diperhatikan, tidak menutup kemungkinan bahwa usaha yang dijalankan itu akan berkembang dan maju. Namun hal itu tidak diperhatikan oleh pemilik usaha itu, yang dipikirkan adalah hanya keuntungan pribadi saja. Oleh karena itu, sangatlah oenting memperhatikan kesejahteraan karyawan. Bukan hanya cuma nyuruh kerja saja, dan minta supaya kerjaan beres dengan alasan agar usaha itu bisa maju dan berkembang. Tapi sayangnya tidak diimbangi dengan kesejahteraan karyawannya.
Lalu hanya bisa menyalahkan karyawannya yang dianggap mempermalukan perusahaan. Dan lebih parahnya lagi malah tidak ada solusi yang kinkret untuk menyelesaikan permasalahan ini.
Manajeman yang carut marut demikian akan menbuat perusahaan sulit untuk berkembang bahkan maju sekalipun. Padahal peran karyawan sangatlah penting dalam menunjang perkembangan perusahaan itu, disamping dengan kebijakan pemilik atau pimpinan perusahaan dalam menentukan arah dan tujuan perusahaan itu. Kerap kali Samiaji diminta pertimbangannya, namun seringkali tidak diperhatikan. Padahal Samiaji juga berpikir keras untuk kemajuan perusahaan itu.
Hingga suatu ketika, Samiaji mengalami suatu musibah yang membuatnya semakin terpuruk. Untuk sementara, ia belum bisa bekerja. Hal yang memperburuk keadaan bukan karena masalah musibah itu. Kini ia merasa sangat sulit mencari pertolongan karena ia sudah ada stigma negatif dalam dirinya dan mendapat penilaian buruk oleh karena keadaannya di masa lalu. Ia berpikir bahwa kalau ia sehat, ia lebih memilih kembali bekerja daripada harus begini. Keadaan semakin buruk karena orang mulai kehilangan empati kepada dirinya karena penilaian buruk itu. Padahal sebenarnya tidak demikian, kalau saja waktu itu kesejahteraannya diperhatikan dengan baik dan mendapatkan hal selayaknya, mungkin keadaan sekarang tidaklah seperti ini.
Beberapa waktu lalu Samiaji mendapat tawaran untuk kembali bekerja di tempat itu dengan catatan mau merubah apa yang dahulu ia lakukan yang dianggap mempermalukan itu. Namun ya sama saja untuk masalah kesejahteraan itu. Berdasarkan pertimbangan masa lalu, uapun memilih untuk tidak kembali. Ua merasa sudah capek dan lelah, ia hanya ingin beristirahat dan melakukan apa yang bisa ia lakukan karena keterbatadan yang ia miliki setelah terjadi musibah itu.
Lalu ia berusaha mencari pertolongan dengan harapan kelak apabila ia sudah bisa pulih dan baik, setidaknya sudah tidak bergantung pada pertolongan orang lain dan bahkan ia mempunyai niat membalas kebaikan orang yang mau menolongnya di saat ia mengalami kesusahan seperti ini. Namun sayangnya, dalam keadaan seperti itu tak banyak yang menolong. Malah lebih banyak yang memperkeruh keadaannya. Ia berusaha bangkit dari keadaan itu. Tekad dan semangatnya yang kuat berusaha membuktikan bahwa anggapan orang yang negatif kepada dirinya adalah salah. Hanya memang keadaan yang membuat demikian. Sebenarnya dia ridak mau berbuat demikian, namun karena keadaan yang memaksa dia seperti itu. Apabila keadaanya bisa lebih baik, iapun malah tak mau melakukannya.
Ia sedang berusaha bangkit dan memperbaiki keadaan. Ia percaya bahawa tak selamanya ia berada dalam keterpurukan dan rasa putus asa yang terus menghantuinya. Ia sadae bahwa itu semua akan menghambat dirinya untuk berkembang dan maju. Namun setidaknya untuk saat ini dia membutuhkan pertolongan orang lain untuk sementara saja hingga ia benar pulih dan mampu bekerja lebih baik lagi meski ada keterbatasan dalam dirinya setelah musibah itu.
Dan kelak nantinya ia pasti mencapai kesuksesan itu dan lepas dari keterpurukan ini. Nantinya pastilah ia mneikmati hasil jerih payahnya dan tidak lupa pula ia juga beerbagi kebaikan kepada orang lain yang telah meolong dia saat ia kesusahan serta yang terpenting adalah iapun juga menolong orang lain yang sedang mengalami kesusahan karena iapun juga mengalami hal yang demikian."
Pemuda itupun menghela nafas yang panjang dan merenung sejenak akan tulisan yang ia barusan ia buat. Lalu ia menyalakan rokok dan menghisapnya sambil terdiam dan merenung. Harapannya tulisan yang ia buat bisa menjadi inspirasi dan motivasi banyak orang. Lalu pemuda itu beristirahat sejenak sambil berpikir mencari ide untuk tulusan selanjutnya.
Comments
Post a Comment