Kisah Sandal Jepit Jelek dan Seorang Pemuda

Kisah Sandal Jepit Jelek dan Seorang Pemuda

Ada seorang pemuda yang memiliki keterbatasan fisik. Meski demikian, ia masih punya semangat berkarya. Orangnya lebih cenderung diam dan tak banyak bicara. Pembawaanya kalem, tenang dan sabar. Ia tinggal di sebuah kost-kostan di kota kecil itu. Penghuni kost-kostan tidaklah banyak, hanya beberapa orang termasuk dia. Untuk saat ini, karena keadaannya seperti itu, ia bersistirahat sambil menunggu pemulihan. Namun, ia tak pantang menyerah dengan keadaanya yang seperti itu. Ia berusaha mengerjakan apa yang ia mampu kerjakan walau kondisinya seperti itu.

Pemuda itu hanya memiliki sepasang sandal jepit jelek, yang ia bawa kemana-mana untuk mencari apa yang bisa ia kerjakan untuk sekadar makan dan bayar sewa kost. Ia tak merasa malu akan sandal itu, karena sandal jepit jelek itu adalah hasil usaha dan selalu setia menemaninya. Ia meletakkan sandal jepit itu pada tempatnya. Hingga suatu ketika, sandal itu raib hilang entah kemana, padahal itulah satu-satunya sandal jepit yang ia miliki. Saat itu ceritanya ia mau pergi keluar untuk mencari apa yang bisa ia kerjakan. 

Lalu pemuda itu hanya terdiam ketika melihat sandal jepit jelek satu-satunya kepunyaanya hilang entah kemana. Padahal terakhir dia pakai sandal itu subuh tadi pagi. Hal itu membuatnya tidak bisa kemana-mana, apalagi saat itu dia mulai merasa lapar. Setidaknya dengan adanya sandal tersebut, dia bisa keluar dan mengerjakan apa saja yang dapat ia kerjakan hanya untuk sesuap nasi dan setetes air.
Air matanya mulai menitik. Dalam hatinya ia berkata,
"Kok ada orang setega ini. Sandal jepit yang jelek dan satu-satunya kok diambil. Parahnya lagi kondisi saya sedang kesusahan, masih ditambah susah dengan kayak gini. Lha wong beli rokok sebungkus 20rb aja bisa, lha kok beli sandal jepit 12rb aja gak mampu. Apa ya ga takut nanti kena azab karena telah mendzolimi orang yang sedang kesusahan. Tapi ya mungkin sudah gelap mata dan tidak punya hati jadinya kayak gini. Ga peduli orang itu susah, yang penting ambil aja, sikat aja. Ya, anggap aja ini ujian buatku. Sabar ajalah dan berdoa supaya Tuhan mengampuni orang yang ambil sandal jepitku. Ya semoga Tuhan memberkati orang itu, selamat dunia dan akherat. Selalu diberi sehat dan rejekinya lancar."
Setelah itu, pemuda itu kembali masuk kamar dan mendoakan orang yang mengambil sandal itu katanya,
"Ya Tuhan, hamba bersyukur. Oleh karena kebaikanMu, hamba masih diberi nafas hidup dan kesempatan untuk berkarya. Terpujilah namaMu, ya Tuhan yang Maha Esa da Maha Agung. Ya Tuhan, ampunilah kiranya orang yang mengambil sandal hamba. Dijauhkanlah ia dari azab dan siksa api neraka. Kiranya Engkau berkenan memberikan kesehatan dan rejeki yang melimpah. Dan hamba juga mengampuni dia. Semoga jalan hidupnya senantiasa diberi terang dan diperlancar apapun yang ia kerjakan. Dan juga ampunilah hamba apabila hambapun ada dosa dan kesalahan dalan diri hamba. Amin."
Seraya mengucapkan doa itu, iapun menangis.

Padahal pemuda itu selalu berbuat baik kepada sesama penghuni kost. Bahkan kalau ada rejeki, ia tak sungkan untuk berbagi. Terkadang di dalam hidup, kebaikan yang kita lakukan kepada orang lain belum tentu kitapun juga menerima kebaikan itu juga. Namun terkadang justru hal yang menyakitkan yang kita terima. Kekecewaan dan sakit hati sering kita alami di saat kita sudah berbuat kebaikan. Namun tak mengapa karena kita sedang diuji ketulusan kita dalam berbuat kebaikan. Kelak suatu saat, percayalah bahwa suatu saat kita akan menuai hasil dari kebaikan kita. Jadi tetaplah berbuat kebaikan bagi sesama.

Comments

Popular posts from this blog

Kisah Kerajaan yang Tenteram dan Damai

Tak Semudah Membalik Telapak Tangan

Petualangan Adigunawan (Chapter 001)