Masih Ada Kesempatan Untuk Berubah

 Di tengah- tengah perenungan itu, tiba- tiba datang seorang yang belum ia kenal sama sekali. Pemuda itu sempat kaget dan bertanya dalam hati, "Siapa gerangan orang ini?"

Setelah menyampaikan salam dan memperkenalkan diri, pemuda itu menyambut baik dan mempersilahkan masuk. Lalu oemuda ittu bertanya apa maksud dan tujuan datang menemuinya. Lalu orang itu masuk dan duduk serta menyampaikan maksud dan tujuan ia kedatangannya itu.

Orang itu bercerita, "Saya sudah cukup lama memperhatikan sampean. Awalnya tanpa sengaja, saya melihat di sebuah media sosial. Saya pikir hanya sekadar menmbah pertemanan saja, lalu seiring berjalannya waktu saya perhatikan banyak hal yang terjadi, terutama saat saya melihat status di media sosial sampean. Ya saya sendiri kadang merasa jengkel bahkan saya merasa malu hingga saya sempat mau hapus pertemanan. Namun setalah saya pikir, mungkin ada hal-hal yang menjadi alasan kenapa sampean menulis status itu. Lalu saya pelajari dan saya telusuri ternyata tidak semuanya demikan. Malah saya melihat ada beberaoa status yang menunjukkan adanya bakat menulis. Saya rasa tulisan itu baik dan bahkan kalau saya lihat sepertinya memang sampen punya bakat menulis. Apalagi setelah saya bertemu dengan sampean secara langsung dan melihat keadaan yang sebenarnya, rasanya tidak mengherankan apabila sampean menulis status yang demikian. Saya rasa mereka belum paham sebenarnya dan hanya menilai dari permukaan saja tanpa mau menyelami lebih dalam untuk mengetahui yang sebenarnya. Saya juag melihat bahwa sepertinya mereka lebih mudah melihat hal yang negatifnya daripada melihat yang positifnya. Saya juga baru tahu bahwa tak semuanya itu seperti yang mereka nilai demikian. Bahkan saya melihat justru mereka lebih bereaksi terhadap apa yang mereka anggap negatif menurut penilaian mereka daripada mereaponi hal yang positif yang sampean sampaikan. Dengan beribu alasan, mereka berusaha membernarkan diri mereka sendiri dan menyalahkan bahkan merendahkan sampen seolah-olah tak ada harga diri. Bahkan mereka hanya menggapnya sebagai suatu aib yang menjijikan, malahan mereka yang sebenarnya berusaha peduli malah kehilangan rasa empati terhadap sampean karena mereka hanya melihat hal yang buruk saja. Mungkin mereka tak tahu keadaan sampean atau tak mau tahu keadaan sampean, kalaupun tak tahu mereka pura-pura tak tahu. Namun jika mereka tahu dan punya hati, mereka akan tetap berusaha peduli dan menolong serta memaklumi keadaan sampean. Saya tahu kalau ada orang yang sedang dalam kesulitan dan kesusahan, sampean tak segan-segan menolong semampunya walau sampean juga sedang kesulitan. Tapi pada kenyataannya saya lihat ketika sampean sedang kesusahan seolah tak ada yang menolong malah mereka menjauh dan memalingkan muka mereka. Mereka datang kalau ada maunya atau di saat sampean ada saja. Seakan samoean hanya dimafaatkan. Ibarat habis manis, sepah dibuang. Namun anehnya, sampean masih saja sabar dan tetap mau melong meski keadaan sampean seperti itu. Tapi saya secara pribadi melihat ada potensi dalam diri sampen. Sampean punya bakat menulis, dalam tulisan yang sampean tuliskan banyak makna dan pelajaran yang berharga. Mungkin dari tulisan sampean bisa menjadi inspirasi dan motivasi yang positif bagi semua orang walaupun tak semua orang bisa menerima baik tulisan sampean. Dan saya rasa, tulisan sampean tersirat banyak hal yang baik meskipun belum tentu orang mengerti. Ya mungkin setidaknya bisa menjadi jalan rejeki sampean. Apalagi kalau sampean ada laptop, bisa jadi banyak tulisan sampean menjadi karya novel atau buku yang menginspirasi banyak orang. Dan terus berkarya melalui tulisan-tulisan yang bisa menginspirasi banyak orang. Saya tidak janji tapi saya usahakan kalau ada rejeki, saya pinjami laptop sementara, sampai sampean punya rejeki untuk membeli laptop sendiri untuk bisa menghasilkan karya tulisan yang menginspirasi banyak orang. Percayalah, pasti ada jalan ketika kita mau berusaha. Saya rasa benar juga, lebih baik kita memberikan peralatan mandi untuk membersihkan diri dan memberi pakaian yang pantas untuk dipakai daripada hanya sekadar menyuruh mandi membersihkan diri lalu hanya menyuruh memakai pakaian yang pantas tapi tidak diberi peralatan mandi untuk membersihkan diri dan tidak memberikan pakaian yang pantas untuk ia kenakan. Tapi tidak menutup kemungkinan jika ada orang lain yang tergerak menolong sampean agar sampean bisa menyalurkan bakat menulis, entah nanti berupa laptop arau dibantu untuk mempublikasikan tukisan-tulisan sampean, ya lunayan dapat rejeki untuk sekadar membeli nasi jotos. Tapi nanti saya usahakan tapi tidak janji. Teruslah berkarya melalui tulisan-tulisan sampean itu. Tetap semangat, jangan sampai keadaan membuat sampean terpuruk apalagi menanggapi penilaian yang negatif terhadap sampean yang hanya ingin sampean berkembang dan maju. Sampean pintar bahkan jenius, tak kurang akal, dan berbakat. Walau memang perlu pembenahan secara karakter. Namun saya yakin, sampean bersikap dan bertindak seperti itu bukan karena keinginan dan kehendak dari hati sampean tapi karena keadaan yang membuat sampean terpaksa berbuat demikian. Karena saya percaya bahwa sampean orang yang baik."

Setelah menyampaikan itu semua,orang itu pamit pergi. Pemuda itu termenung dan mencerna perkataan itu.

Comments

Popular posts from this blog

Kisah Kerajaan yang Tenteram dan Damai

Tak Semudah Membalik Telapak Tangan

Petualangan Adigunawan (Chapter 001)