Mengasihi Tuhan dan Mengasihi Sesama

Manusia pada dasarnya adalah diciptakan untuk saling mengasihi sesama manusia. Hakekatnya adalah perilaku dan sifat watak bagaimana yang seharusnya bagi orang lain. Memang ibadah itu penting sebagai wujud penyemmbahan kepada Sang Khalik sebagai pemcipta dan pemilik segala sesuatu. Ajaran agama yang ada di dunia ini bukan hanya mrngajarkan masalah tata cara ibadah penyembahan kepada Tuhan, namun mengajarkan apa dan bagaimana bersikap dan berperilaku terhadap orang lain. Masalah ibadah penyembahan kepada Tuhan itu bersifat personal, yaitu pribadi lepas pribadi kita masing-masing kepada Tuhan, sesuai tata cara ibadah yang sesuai ajaran agama dan keyakinan kita masing-masing. Karena Tuhan menilik hati kita satu persatu pada saat ibadah itu, meskipum tata cara ibadah itu dilakukan oleh banyak orang. Masalah ibadah penyembahan kita berkenan atau tidak, itu adalah kehendak dari Tuhan sendiri. Conoh, ada dua orang yang datang beribadah kepada Tuhan. Yang satu ibadahnya diterima dan yang satunya tidak. Kenapa bisa demikian? Karena masahnya adalah sikap hati yang diwujudnyatakan dalam sikap dan perbuatan kita terhadap orang lain.
Yang dituntut oleh Tuhan bukan hanya ketaatan dan kesetiaan dalam melaksanakan ibadah penyembahan kepada Tuhan saja, namun sikap hidup dan perilaku terhadap orang lain. Seperti contoh di atas tadi, kita bisa belajar bahwa ibadah penyembahan itu memang penting, tapi hal yang penting adalah hubungan dengan orang lain. Sebagai contoh, ada orang sedang dalam kesulitan atau kesusahan, minta tolong. Apa kita hanya mau diam saja? Masih mending hanya diam, lha ini malah diketawain, diolok-olok bahkan dihina, dicampakkan, dpandang sebelah mata. Bahkan tidak mau kenal, dicibir dan dibully. Dengan kata lain sudah susah ditambah susah, bukannya ditolong. Itu egois namanya. Ga mau peduli dengan orang lain, sombong merasa dirinya lebih baik dari orang lain dengan merendahkan dan menghina orang laij, apalagi yang sedang mengalami kesusahan dan kesulitan yang butuh pertolongan. Atau menindas orang lemah. Nah ini yang Tuhan mau nilai, bukan seberapa taat, rajin setia dalam menjalankan ibadah penyembahan kepada Tuhan, tetapi juga sikap dan perlakuan kita terhadap orang lain. Sebagai evaluasi kita sendiri, renungkan sejenak bahwa Tuhan itu sudah baik bahkan terlalu baik untuk kita, masak kita tidak mau membagikan kebaikan Tuhan itu dengan orang lain. Apalagi dengan orang lemah dan membutuhkan uluran tangan kepada kita. Memang benar kita tidak boleh berharap kepada manusia, tapi Tuhan bisa gerakkan orang untuk menolong kita. Dengan demikian, ada banyak keuntungan yang didapatkan. Pertama, kita berbagi kebaikan dengan orang lain. Mereka yang sedang susah, bebannya diperingan. Kedua, yang menolong beroleh amalan perbuatan baik. Karena menabur kebaikan akan menuai kebaikan pula. Meskipun belum tentu kita mendapat kebaikan dari orang yang kita tolong, mungkin orang lain yang membalas kebaikan kita. Ketiga, bagi yang ditolong, bukan hanya beban yang diperingan saja tapi juga akan menambah syafaat. Tentunya mendoakan orang yang telah menolongnya. Karena doa orang-orang yang lemah dan butuh pertolongan inilah yang doanya lebih cepat terkabulkan. Keempat, juga orang yang ditolong ini akan senantiasa mengingat kebaikan tersebut dan menularkan kebaikan tersebut pada orang lain. Karena sudah ditolong maka sudah seharusnya gantian menolong orang lain.
Jadi jelas bahwa ibadah itu bukan hanya mencakup aspek penyembahan kepada Sang Pencipta, namun aspek hubungan dengan orang lain. Semoga bermanfaat. Tetap semangat dan sukses selalu. Salam sehat.

Lunar Solarius
+6281230188946
Jl. Ki Ageng Selo No. 02, Kota Madiun.

Comments

Popular posts from this blog

Kisah Kerajaan yang Tenteram dan Damai

Tak Semudah Membalik Telapak Tangan

Petualangan Adigunawan (Chapter 001)