Pemikirannya 002
Dari faktor pembaca atau bisa juga disebut penerima pesan. Perlu diketahui bahwa suatu karya sastra keberadaanya bisa melintasi jangka waktu yang sangat panjang bahkan juga bisa lintas antar budaya, kecuali karya sastra temporer. Maksudnya kadangkala suatu kebudayaan bisa berubah-ubah seiring berjalannya waktu, terutama peradaban manusia yang terus berkembang. Sekali lagi bahwa faktor budaya, sosial dan sejarah juga merupakan faktor primer dalam hal ini, yang dimaksud adalah faktor budaya, sosial dan historis dari si pembaca karya sastra itu. Itupun berpengaruh pada sudut pandang dan pemahaman si pembaca terhadap karya sastra itu yang menimbulkan penafsiran yang berbeda-beda antara pembaca satu dengan yang lain atau bisa jadi akan memunculkan multitafsir. Namun yang terpenting dalam kita membaca suatu karya sastra adalah memperhatukan dan memahami konteksnya terlebih dahulu. Sebab tanpa adanya pemahaman konteks, pembaca akan mengalami kesulitan dalam memahami pesan yang disampaikan atau bahkan menimbulkan salah penafiran dan pemahaman yang bisa jadi menimbulkan polemik bahkan konflik. Memang, setiap pembaca punya perspektif dan tingkat pemahaman masing-masing. Hanya memang kesenjangan sosial, budaya dan historis bisa menjadi kendala. Ibarat menaiki mesin waktu, pembaca mau tidak mau menelusuri jejak masa lalu. Maksudnya dengan metode hermeneutik yang tepat, tentu akan membantu untuk mempelajari dan memahami suatu karya sastra. Kalau hanya karya sastra temporer atau populer atau karya satra yang sifatnya sekali baca habis, tentunya lebih mudah dicerna, lebih mudah dipahami, setelah habis baca ya sudah selesai. Karena biasanya si penulis karya sastra ini hanya menggunakan gaya bahasa yang sedeehana dan mudah dipahami. Namun bisa jadi karya sastra ini bisa lestari tergantung bagaimana si pembaca menyikapinya.
Dari hal- hal tersebut di atas, pemuda itu hanya menghela nafas. Namun nasih banyak lagi yang ia pelajari untuk menyalurkan bakat menulisnya. Pikir pemuda ity, ya tak apalah, toh ini bukan sekadar mengarang saja tapi setidaknya ada kesan setelah membaca tulisanku. Syukur ya bisa mengunspirasi dan memotivasi. Lalu perut pemuda itupun keroncongan, rupanya ia belum makan sejak tadi. Tapi sayangnya ia tak punya uang untuk membeli makanan. Ya semoga ada berkat buat beli makan.
Comments
Post a Comment