Sekelumit Kisa Kelam di Tanah Pendekar 001

005
Menjelang peringatan kemerdekaan Indonesia, Ki Sanak pergi menuju kantor desa. Beliau mendapatkan undangan pertemuan. Beliau mengajak Tejo dan Aria. Kedua ayah dan anak kerap kali diajak dalam pertemuan penting.
Pertemuan saat itu membahas persiapan perayaan dan festival dalam rangka menyambut peringatan kemerdekaan RI yang masih berusia muda. Namun, afa hal yang lain yang juga akan mereka bicarakan. Perihal desas-desus yang semakin santer terdengat dan mulai menyabarkan teror.
Beberapa hari lalu, di desa seberang, terjadi kasus penculikan dan penyiksaan. Mereka yang menjadi korban adalah beberapa pemuka agama dan pejabat tentara dan polisi. Sebagian jenazah mereka ditemukan dalam keadaan mengenaskan bahkan hampir tak dapat dikenali. Sebagian lagi tidak diketahui keberadaannya. Hal iti merupakan suatu ancaman yang mengerikan dan tindakan yang sangat kejam dan biadab. Hal itu dikuatirkan akan mengganggu ketentraman dan keamanan warga desa. Senagian kepala kampung mulai cemas karena mereka takut nanti akan menjadi korban selanjutnya. 
Suasana cukup riuh terdengar di pendopo balai desa itu. Mereka berbincang satu dengan yang lain, mulai dari perkembangan kampung, persiapan kampung dalam merayakan peringatan kemerdekaan hingga masalah desas-desus yang kian santer terdengar. Lalu kepala desa memasuki pendopo itu untuk segera memulai pertemuan. Suasana kembali tenang. Kepala desa memulai pembicaraannya.
"Assalamualaikum warahamatulahi wabarakatuh. Hadirin yang terhormat pada pagi hari ini, kita akan membicarakan dan mendengarkan laporan dari hadirin sekalian tentang perkembangan kampung masing-masing. Saya berharap bapak-bapak keoala kampung bisa menyamoaikan laporannya masing-masing. Namun nanti setelah kita membicarakan berkenaan dengan persiapan perayaan peringatan kemerdekaan Indonesia dan masalah desas-desus yang semakin santer terdengar akhir-akhir ini dan bagaimana cara menyikapinya."
Lalu kepala desa itu menlanjutkan pembicaraannya, "Bapak-bapak hadirin yang terhormat, sebentar lagi kita akan menyambut peringatan kemerdekaan bangsa kita. Tentunya, kita merasa bangga bahwa bangsa kita telah memprokamasikan kemeedekaan kita tiga tahun silam. Di usia yang masih muda ini, tidak mudah bagi bangsa yang baru merdeka untuk membentuk tatanan negara yang ideal. Masih banyak yang perlu dirumuskan mengenai tata negara. Untuk itu pemerintah kita sedang berjjuang untuk merumuskan tatanan negara yang baik. Rumusan tata negara yang dimaksud adalah runusan yang telah disusun berdasarkan Piagam Jakarta yang dahulu disusun oleh Panitia Sembilan yang dibentuk oleh Jepang melalui BPUPKI yang diteruskan usahanya melalui PPKI jelang dinyatakannya proklamasi 17 Agustus 1945. Tentunya rumusan tatanan negara yang telah disusun itu cukup untuk menjadi landasan negara yang sah, karena di dalamnya mengatur banyak hal untuk kesejahteraan bagi seluruh takyat Indonesia. Runusan itu bisa menjadi landasan ideologi dan falsafah bangsa kita. Harapannyan dengan rumusan ideologi itu, bisa memujudkan kemakmuran dan kesejahteraan bangsa kita ini. Apalagi, bangsa kita ini baru merdeka tiga tahun yang silam. Tidaklah mudah bagi bangsa ini dalam memmulai proses membangun bangsa ini. Kita masih harus menghadapi penjajah yang masih ingin menjajah bangsa kita ini. Belum lagi adanya pihak dari bangsa kita sendiri yang bukannya ikut berjuang mempertahankan kemerdekaan bangsa ini, tapi justru berusaha menghancurkan kedaulatan dari dalam. Tentu hal ini bisa dimanfaatkan penjajah untuk memecah belah persatuan dan kesatuan negara kita sebagaimana telah diikrarkan para pemuda bangsa dalam Sumpah Pemuda 28 Oktober 1928 silam. Bahwa kita ini berbangsa satu, bangsa Indonesia. Bertanah air satu, tanah air Indonesia. Berbahasa satu, bahasa Indonesia. Saat itulah lagu Indonesia Raya mulai berkumandang yang kemudian menjadi lagu kebangsaan Indinesia dan bendera merah putih menjadi bendera nasional kita."
Mendengar hal itu, mereka yang hadir di pendopo balai desa itu hanya bisa terdiam. (Bersambung...)

Comments

Popular posts from this blog

Kisah Kerajaan yang Tenteram dan Damai

Tak Semudah Membalik Telapak Tangan

Petualangan Adigunawan (Chapter 001)