Sekelumit Kisah Kelam di Tanah Pendekar 001
001
Ketika malam menjelang, beberapa warga mulai beranjak menuju rumahnya masing-masing. Semilir angin malam mulai berhembus, sang surya sudah mulai menghilang di ufuk barat. Sayup- sayup mulai terdengar suara binatang malam seolah menyambut datangnya malam. Beberapa warga bersiap menuju masjid di tengah kampung itu. Anak-anak berlarian sambil bercanda dengan teman-temanya menuju masjid. Beberapa orang muda mulai menghampiri temannya dan segera bergegas menuju masjid. Canda tawa dan gurauan mengiring langkah mereka. Sementara orang yang lebih tua sibuk mempersiapkan diri mereka untuk menghadap Sang Pencipta. Ibu-ibupun juga bergegas pergi menuju masjid. Seperti biasa, para warga kampung itu selalu melaksanakan kewajibannya untuk melaksanakan ibadah berjemaah di masjid itu.
Seusai melaksanakan kewajibannya itu, sebagian warga kembali ke rumah masing-masing, sedangkan yang lain mwmpersiapkan diri untuk melaksanakan ronda malam sesuau jadwal yang ditentukan. Begitulah suasana di kampung itu. Suasana yang tenang dan damai.
Kira-kira pukul 8 malam, warga yang mendapat giliran ronda malam mulai menuju pos kamling di ujung jalan masuk ke kampung itu. Ada yang membawa kopi dan rokok, adapula yang membawa jagung dan ketela rebus, sekadar cwmilan yang menemani warga yang sedang ronda di malam itu. Jarak antara kampung itu dan kampung yang lain agak berjauhan, hanya sebuah jalan kecil yang menghubungkan antar kampung dan juga dikelilingi sawah. Namun ada rumpun bambu yang sebagian mengelilingi kampung itu. Letak kampung itu adalah paling ujung di desa itu. Kampung itu adalah bagian dari desa, ada empat kampung yang menjadi bagian dari desa itu. Balai desa itu terletak di kamoung lain yang cukup dekat dengan jalan besar yang menjadi penghubung antar kecamatan.
Pada waktu itu, penerangan masih mengandalkan obor meski sebagian sudah menggunakan listeik terutama di sekitar balai desa atau yang dekat jalan besar. Sangat sedikit warga yang menggunakan listrik. Hanya warga yang dianggap mampu serta pos kamling saja yang penerangannya sudah menggunakan listrik. Sebagian besar warga masih menggunakan obor atau lentera untuk penerangan rumahnya.
Malampun mulai larut, di pos kamling kampung itu terdengar suara radio dan canda tawa warga yang sedang ronda. Waktu menunjukkan kira-kira jam 9 malam. Lalu datanglah seromobongan tentara dan polisi ke pos kamling itu. Mereka, yang sedang ronda, menyambut rombongan itu dengan baik. Rombingan itu kira-kira lima orang, mereka terdiri dari dua orang tentara, dua orang polisi dan bapak kepala desa sendiri. Tujuan mereka datang adalah memriksa keamanan lingkungan kampung. Kebetulan saat itu ada kepala kampung yang mendapat jatah jaga ronda. Setelah memberi hormat, kepala kampung itu mempersilahkan untuk duduk. Sementara warga yang sedang ronda, beberaoa diantaranya meminta ijin untuk berkeliling mengambil jimpitan dan memantau situasi kampung. Sedang yang lain berjaga-jaga di sekitar pos kamling itu.
Rombongan itu terlibat pembicaraan dengan kepala kampung itu. Awal pembicaraan mereka hanya sekadar basa-basi membicarakan program rencana kerja desa. Namun, pembicaraan mulai semakin serius saat komandan tentara mulai menyampaikan adanya desas-desus yang mulai santer terdengar. Lalu komandan polisi itu juga menyampaikan bahwa keamanan mulai diperketat. Dan bapak kepala desa menambahkan bahwa nantinya setiap kampung keamanannya akan dibantu oleh polisi dan tentara. Sang kepala kampung menyiritkan keningnya dan bertanya dalam hati, "Ada apakah gerangan?""
Lalu kepala desa itu berkata, "Menurut informasi yang kami terima dari pak camat dan juga bapak-bapak komandan dan polisi, ada desas desus beruoa ancaman keamanan. Ancaman ini bukan dari penjajah yang ingin menjajah kembali tanah air kita ini. Menurut kabar, justru ancaman itu berasal dari orang-orang kita sendiri. Kita yang tidak sepaham dengan mereka, pasti akan diculik dan dibunuh dengan kejam."
Lalu komandan tentara itu menambahkan, "Kamipun juga berusaha menyelidiki apa yang sebanrnya terjadi. Kami juga sedang menunggu komando dari Jakarta. Sepertinya akan ada penambahan personil tentara, namun dilakukan secara diam-diam karena mengelabui orang-orang Belanda itu. Kami menunggu telegram dari Jakarta. Tapi kami diperintahkan oleh atasan untuk segera bersiaga."
Lalu kepala polisi berkata, "Kamipun sama. Kami juga sedang menunggu informasi dari intelejen tentang kepastian kabar burung ini. Namun sepertinya kemungkinan besar akan benar. Maka dari itu, kami menghimbau agar keamanan kampung diperketat. Apalagi nanti akan dibantu kami dan tentara."
Perbincangan mulai sangat serius. Kepala kampung mendengarkan seksama apa yang dibicarakan rombongan itu sembari menawarkan cemilan dan kopi yang ada di situ. Sambil menghisap rokok, kepala kampung mendengarkan dengan cermat. Lalu ia memberi isyarat keoada warga lain yang sedang ronda agar menyiapkan cemilan tambahan dan kopi kepada rombongan itu.
Kepala kampung itu berkata, "Sebwnarnya ada apa ini? Kita sudah merdeka dari para penjajah tiga tahun silam. Waktu itupun kita juga berjuang mengusir mereka dari tanah air ini. Lha kok sekarang ada ancaman dari saudara setanah air kita sendiri. Apa hanya beda pandangan lalu berbuat hal yang demikian kejamnya. Kalau tidak sepaham maka akan diculik dan dibunuh bahkan disiksa secara kejam?"
Lalu ia melanjutkan perkataannya setelah menyalakan dan menghisap rokok kretek, "Lalu apa tujuan dan naksudnya? Bukannya kita sudah merdeka dan sudah ada pemimpin negara yang mengayomi seluruh rakyat tanah air kita?"
Komandan tentara itu menjawab, "Ada orang-orang yang tidak sepaham dengan ideologi kita saat ini. Mereka hendak mengganti ideologi kita saat ini dengan ideologi mereka sendiri."
"Siapa mereka?", tanya kepala kampung.
"Mereka disebut ekstrimis kaum kiri. Mereka juga disebut kaum komunis. Mereka menganggap bahwa ideologi saat ini tidak pantas menjadi dasar negara saat ini. Buktinya banyak wilayah Indonesia ini menjadi milik Belanda. Bahkan wilayah kita hanya tinggal Yogyakarta saja. Lalu bagaimana bisa kita mempertahankan kedaulatan negara ini yang telah diplokamirkan 17 Agustus tiga tahun silam? Kita sedang berusaha mempertahankan kedaulatan negeri ini. Namun sekarang ada ancaman dari dalam yang menggerogoti negeri ini." kata kepala desa itu. Sedangkan sisa rombongan itu hanya mengagguk-angguk saja.
Kepala kampung itu terdiam. Lalu bertanya kepada rombongan itu, "Apakah kampung lain sudah tahu?"
"Belum, kami baru memberitahukan hal ini kepada bapak. Lagipula kami mengaggap bahwa bapak bukan hanya kepala kampung saja, tetapi juga tetua di desa kita ini. Jadi baru pertama kali ini kami sampaikan. Mungkin ada petunjuk atau petuah untuk desa kita ini." jawab kepala kampung itu.
"Kalau begitu, undang semua kepala kampung desa kita ini. Adakan pertemuan di balai desa secepatnya." kata kepala kampung itu.
"Ya, akan kami adakan secepatnya. Kami mohon pamit, demi keamanan nanti ada beberapa personil dan tentara menjaga kampung ini. Kami permisi." kata kepala desa itu sambil pamit pergi beserta rombongan itu.
Kepala kampung itu mengantarkan mereka pergi hingga ujung jalan itu. Lalu kepala kampung itu kenbali ke pos kamling itu. Ia melihat warga yang ronda itu sudah berkumpul. Lalu salah seorang dari mereka bertanya, "Ada apakah gerangan Ki Sanak, sepertinya akan ada sesuatu yang terjadi? Apakah akan ada ancaman dari Belanda lagi atau apa? Kok tadi saya lihat pembicaraannya serius sekali."
"Tenang dulu, mari silahkan duduk dan minum kopi sambil kita bicara." kata kepala kampung itu dengan tenang. Lalu merekapun duduk bersama. (Bersambung...)
Comments
Post a Comment