Sekelumit Kisah Kelam di Tanah Pendekar 001
004
Beberapa hari kemudian menjelang peringatan hari kemerdekaan Indonesia, para warga mulai sibuk menyambut hari itu. Seakan tak mau terbawa desas-desus itu, mereka masih tetap melaksanakan kegiatan persiapan menyambut peringatan kemerdekaan bangsanya. Mereka juga dibantu para tentara dan beberapa anggota perguruan silat. Karena tak jauh dari kampung itu, ada padepokan silat.
Padepokan itu juga tidak jauh dari markas tentara. Mereka juga ikut berpartisipasi dalam kegiatan itu. Kepala kampung itu seringkali membantu padepokan itu dalam hal bimbingan spiritual dan moral yang berbudi luhur. Ki Sanak mengajarkan banyak hal kepada murid padepokan itu.
Pada prinsipnya, pendekar yang sejati bukan hanya kuat secara fisik, namun juga secara mental dan spiritual. Dia harus mampu menaklukan dan mengendalikan dirinya secara baik saat menghadapi musuhnya. Sebenarnya lawan yang terberat adalah diri sendiri. Ia selalu mengajarkan kepada muridnya di padepokan itu agar senantiasa tetap rendah hati dan menghargai siapapun. Dan jangan pernah meremehkan lawan yang dihadapinya. Mungkin bisa jadi lawannya lebih kuat dan tangguh. Apabila kalah, mau tidak mau harus mengakui kekalahan dengan sportif. Apabila menang, jangan sampai sombong dan takabur. Itulah jiwa pendekar yang sejati.
Selain itu Ki Sanak juga menanamkan semangat nasionalisme yang tinggi kepada mereka, semangat cinta tanah air, rela berkorban membela tanah tumpah darah bangsa. Makanya tidak sedikit dari mereka ikut berjuang mempertahankan kemerdekaan yang telah diraih tiga tahun silam.
Banyak pelajaran yang diajarkan Ki Sanak di padepokan itu, yang menjadi bekal para muridnya apabila kelak ada yang merantau. Kebanyakan dari mereka menjadi orang yang sukses dan berhasil, berkat ilmu yang ditularkan Ki Sanak. Di padepokan itu, bukan hanya ilmu beladiri, ilmu kanuragan tenaga dalam, namun juga ilmu budi pekerti luhur dan moral yang baik serta semangat nasionalisme kecintaan akan tanah air. Para murid digembleng sebegitu rupa sehingga mereka menjadi pribadi yang berkualitas.
Sementara di rumah keluarga kecil. Sang Ayah bernama Tejomantri sedangkan isteinya bernama Ayu Lestari. Anak perempuannya bernama Lasmini sedangkan yang laki-laki bernama Aria Gunawan. Mereka juga sibuk berpertisipasi dalam perayaan di kampungnya itu. Aria Gunawan, yang juga menjadi murid di padepokan itu, bersama ayahnya membantu para warga bekerja bakti. Sedangkan istri dan anak perempuannya membantu ibu-ibu memasak di dapur. Kebersamaan dan keakraban terjalin erat di kampung itu, tak memandang status sosial dan usia. Karena kepala kampung itu juga mengajarkan kepada warganya untuk senantiasa gayub rukun dan gotong royong saling membantu satu dengan yang lain. Memang sebagai pemimpin, Ki Sanak bukan cuma mengayomi, nami juga mengajarkarkan hal yang beik kepada para warga. Ki Sanak juga belajar menjadi pemimpin yang baik. Iapun juga mempersiapkan penggantinya kelak apabila beliau sudah tidak menjadi kepala kampung lagi.
Suasana di kampung itu cukup meriah, sering terdengar canda tawa dan guyonan para warga yang sedang mempersiapkan perayaan itu.
Tak mengherankan apabila suasana sangat kondusif dan aman. Karena para warga senantiasa mnciptakan dan menjaga kerukunan dengam baik. Tidak ada kesenjangan di antara mereka, sebab mereka saling tolong menolong satu dengan yang lain. Yang kuat membantu yang lemah, yang kayapun juga demikian, membantu warga lain yang berkekurangan. Merekapun saling menghargai seorang akan yang lain. Yang muda sangat menghargai dan menghormati yang lebih tua, dan yang tua senantiasa memberikan nasehat dan arahan yang positif kepada yang muda. Tidak ada rasa iri dengki dalam hati mereka. Mereka memiliki persamaan rasa, dan mereka juga tidak egois dan mementingkan diri sendiri. Itupulalah yang diajarkan oleh kepala kampung disetiap pengajian malam Jumat.
Smentara para warga sibuk kerja bakti, Ki Sanak datang menghampiri Tejomantri.
"Jo, Tejo, datanglah kerumahku bersama Aria, anakmu. Ada yang ingin kubicarakan." kata kepala kampung itu.
"Ya, Ki Sanak." jawab Tejo. Lalu ia mengajak anaknya mengikuti kepala kampung itu. (Bersambung....)
Comments
Post a Comment