Sekelumit Kisah Kelam di Tanah Pendekar

008

Di tengah suasana yang henig itu, akhirnya Ki Sanak angkat suara dan berkata,
"Para hadirin yang terhormat, harap kita tetap berusaha tenang dan jangan takut. Kita fokuskan pada kegiatan perayaan kemerdekaan terlebih dahulu. Masalah desas-desus yang beredar, sebaiknya kita bahas setelah perayaan peringatan kemerdekaan nanti. Yang terpenting adalah bagaimana caranya membuat suasana tetap kondusif. Nanti pengamanan akan diupayakan oleh para tentara dan polisi serta dibantu oleh anak-anak padepokan. Untuk memastikan kelancaran kegiatan perayaan peringatan kemerdekaan nanti. Kita tetap percaya bahwa keadaan akan baik-baik saja. Asalkan kita jangan sampai takut dan cemas. Nanti setelah perayaan selesai. Kita akan bahas lagi masalah desas-desus itu. Yang penting perayaan peringatan kemerdekaan nanti berjalan dengan baik dan lancar."
Para hadirin yang mendengar itu, mengangguk-angguk setuju. Lalu mereka berdiskusi soal perayaan peringatan kemerdekaan. Terdengar hiruk pikuk diskusi hangat di antara mereka. Seolah sejenak mereka melupakan masalah desas-desus itu dan merasa tidak ada pikiran ketakutan ataupun kecemasan di antara mereka.
Akhirnya diputuskan bahwa perayaan akan dipusatkan dalam kegiatan desa dengan melibatkan semua kampung yang ada. Selain itu ada malam tirakaran, yaitu malam menjelang tanggal 17 Agustus. Sementara perlombaan akan diadakan selama seminggu, yaitu antara tanggal 11 - 17 Agustus. Lalu puncaknya pada tanggal 17 Agustus 1948.

Pada hari dan tanggal yang telah ditentukan, perayaanpun dimulai. Dengan berbagai perlombaan yang diselenggarakan oleh pantia desa. Banyak warga yang turut berpartisipasi dengan antusias dan semangat. Mereka terlarut dalam kemeriahan berbagai kegiatan lomba. Bukan masalah menang atau kalah, yang mereka rasakan adalah kegembiraan dan kerukunan di antara mereka. Terdengar senda gurau kebersamaan. Tak memandang status sosial ataupun derajat pangkat, mereka tenggelam dan larut dalam kemeriahan perayaan itu.

Ya, mereka memeriahkan perayaan itu. Dengan semangat gotong royong dan kebersamaan di antara mereka. Kegembiraan dan semangat menyambut peringatan kemerdekaan mengalahkan rasa takut dan cemas akan desas-desus yang beredar dan kian santer terdengar. Lalu pada tanggal 16 Agustus 1948, kira-kira pukul 20.00 WIB atau jam 08.00 malam....
(Bersambung)

Comments

Popular posts from this blog

Kisah Kerajaan yang Tenteram dan Damai

Tak Semudah Membalik Telapak Tangan

Petualangan Adigunawan (Chapter 001)