Sekelumit Kisah Kelam di Tanah Pendekar 001
002
Ketika pagi menjelang, seperti biasa, para warga melakukan aktifitas seperti biasa. Mereka kebanyakan adalah petani, ada juga berkebun, pencari kayu, ada juga yang bekerja sebagai pedagang sayur dan berjualan kebutuhan sehari-hari. Seolah tidak terpengaruh dengan peristiwa semalam. Mereka menjalankan kegiatan sehari-hari seperti biasanya. Di rumahnya, kepala kampung itupun menjalankan kegiatan seperti biasa. Beliau memiliki keluarga besar, yang sebagaian besar tinggal di kampung itu. Sebagian lagi ada yang merantau, baik yang sekolah maupun yang bekerja. Istrinya sudah meninggal, beliau tinggal dengan beberapa anak dan cucunya. Rumahnya terbilang sederhana namun cukup nyaman dan asri. Pelatarannya ditumbuhi beberapa pohon yang selalu berbuah pada musimnya. Sedangkan di belakang ada kolam ikan budidaya dan kandang ternak, semua itu dikelola oleh anak dan cucu yang tinggal bersama beliau. Dan juga ada beberapa warga yang turut bekerja mengelola itu semua, disamping sawah dan kebun yang beliau miliki. Beliau adalah salah satu orang yang berpwngaruh dan terpandang di kampung iru bahkan hingga tingkat desa dan kecamatan.
Meski demikian, hal itu tidak membuatnya sombong. Pada kenyataannya, beliau turut serta membangun lingkungan dimana beliau tinggal. Sehingga, banyak orang yang menaruh rasa hormat kepada beliau. Sebetulnya, beliau sempat dicalonkan menjadi camat, namun beliau menolak. Beliau lebih memilih untuk menjadi warga biasa yang turut serta membangun desanya. Kerapkali beliau juga membantu para tentara yang berjuang mempertahankan kemerdekaan bahkan beliau juga ikut berperang melawan penjajah. Meski usianya sudah menginjak senja, namun beliau masih memiliki semangat muda.
Berbagai pengalaman telah beliau lalui. Beliau juga mengecap asam manis perjuangan baik merebut kemerdekaan maupun mempertahankan kemerdekaan. Banyak rekan-rekannya yang telah mendahuluinya, baik karena perang, penyakit ataupun usia.
Pagi itu, seperti biasa beliau memeriksa kandang ternaknya. Beliau bersama beberapa orang warga membersihkan kandang itu dan memberi makan ternak. Lalu beliau memeriksa juga kolam ikan. Selepas itu semua, ia segera menuju kebun yang beliau miliki, memeriksa tanaman kebun yang akan segera panen. Kemudian, beliau juga pergi ke sawah untuk mwlihat tanaman padi. Setelah melakukan itu semua, beliau segera kembali ke rumah. Beliau segera mempersiapkan diri untuk pergi ke balai desa dengan beberapa orang kepercayaannya.
Dalam perjalanannya menuju ke balai desa, beliau juga menyapa warga yang sedang beraktifitas.
Lalu beliau berkata kepada orang-orang yang ikut bersamanya, "Tolong jangan sampai percakapan semalam membuat para warga panik. Biarkan mereka melakukan kegiatan mereka seperti biasa."
"Baik Ki Sanak." kata mereka tanpa bertanya alasannya.
Setelah sampai ke balai desa, beliau segera disambut oleh kepala desa, komandan tentara dan kepala polisi yang semalam menemui beliau. Di balai desa itu telah berkumpul para kepala kampung dan tetua desa. Rupanya kepala desa itu sudah mengundang mereka pagi-pagi tadi. Kepala kampung itupun duduk di tenpat yang telah disediakan.
Lalu kepala desa itu memulai pertemuan itu. Dengan santun kepala desa itu menyambut para hadirin yang datang di balai desa itu dan menyampaikan salam kepada mereka. Sementara diluar beberapa anggota tentara dan polisi menjaga ketat balai desa itu.
Lalu setelah menyampaikan salam kepala desa itu berkata, "Bapak-bapak hadirin yang terhornat, kami mengundang bapak-bapak sekalian karena ada informasi yang sangat penting dan mendesak."
Para hadirin mulai berbisik satu dengan yang lain sembari bertanya ada apakah gerangan. Kepala desa itupun sempat terdiam sejenak sambil menunggu suasana kembali tenang.
"Kami mendengar bahwa ada desas-desus yang mengatakan akan ada ancaman, bukan dari Belanda namun ancaman itu muncul dari saudara setanah air kita. Saat ini pihak militer dan kepolisian sedang menyelidiki hak ini. Bahkan sejunlah daerah sudah rerjadi beberapa pertumpahan darah, baik dari militer maupun warga sipil. Dari pihak militer kadang terjadi baku tembak, sedangkan dari warga sipil menjadi korban penculikan, penyiksaan bahkan pembunuhan secara keji. Pemerintah berupaya untuk menjaga stabilitas negeri ini. Kita baru merdeka dari tangan penjajah tiga tahun yang lalu. Kini kita sedang berjuang mempertahankan kemerdekaan ini. Nah sekarang kita diperhadapkan dengan ancaman dari negeri sendiri. Yang tidak setuju dan sepaham dengan mereka, maka mereka tak segan-segan untuk menculik, menyiksa bahkan membunuh dengan kejam. Karena mereka menganggap bahwa pemerintah telah gagal mempertahankan keutuhan wilayah negara kita. Kini wilayah kita yang diakui hanyalah Yogyakarta. Hal itu menyababkan pemerintahan di Jakarta terpaksa pindah ke Yogyakarta. Namun sayangnya mereka justru memanfaatkan hal itu untuk mendirikan negara sendiri dengan ideologi mereka sendiri. Tapi cara mereka untuk mencapai tujuan itu benar-benar keji dan tidak berperikemanusiaan. Untuk itu, pada pertemuan kali ini adalah membahas tentang bagaimana upaya kita melindungi warga kita agar tidak terpengaruh mereka dan menjadi korban kekejian mereka."
Para hadirin terdengar riuh memperbincangkan apa yang disampaikan kepala desa itu.
"Tenang, tenang dulu." kata komandan tentara itu berusaha menenangkan para hadirin. Seketika merekapun tenang dan memperhatikan dengan serius dan cermat apa yang mau disampaikan komandan tentara itu.
"Jadi begini bapak-bapak, kita tidak usah panik dulu. Tetap tenang dan kepala dingin. Memang benar ada desas-desus demikian namun alangkah baiknya jika jika kita tetap berusaha tenang dan tidak panik. Informasi yang kami terima dari intelejen komando pusat memang demikian. Maka dari itu, kani berusaha semampu mungkin menjaga stabilitas keamanan. Dan saat ini beberepa bataliyon sedang dimobilisasi dari daerah-daerah kantong menuju ke Yogyakarta. Kami juga sedang berusaha meredam gejolak yang kami hadapi di daerah-daerah yang ingin melepaskan diri dari kedaulatan negara ini. Kami beruapaya untuk selalu menjaga keamanan dan keutuhan negeri ini dari ancaman luar maupun dalam. Kita berharap agar megara ini merdeka seutuhnya. Namun upaya ini memang tidak mudah. Di satu sisi kita berhadapan dengan Belanda yang ingin menjajah kembali. Di sisi lain, kita juga berhadapan dengan saudara setanah air yang ingin melepaskan diri dari kedaulatan negeri ini. Jadi kami berharap agar melalui pertemuan ini, kita bermusyawarah agar kita menjaga keamanan desa kita dan tetap membuat warga desa tidak panik dan takut." katankomandan tentara itu. Para hadirin hanya bisa terdiam dan hanya bisa saling pandang satu dengan yang lain. Lalu salah seorang kepala desa bertanya, "Siapa yang hendak berbuat keji semacam itu?"
Lalu kepala desa itu menjawab, " Mereka disebut sebagai kaum ekstrin kiri. Juga disebut dengan kaum komunis. Mereka tidak segan-segan menyiksa dan membunuh kita yang tidak sepaham dengan mereka."
Lalu para hadirin berpadangan satu dengan yang laim sambil berkata pelan.
"Kita harua bisa melindungi warga kita dari ancaman ini. Yang penting warga tidak panik dan takut menghadapi hal seperti ini. Untuk itu mari kita bekerja sama menjaga keamanan desa ini. Kita tidak ingin menjadi korban keganasan mereka." lanjut kepala desa itu.
Pembicaraanpun terua berlanjut hingga adzan dzuhur berkimandang yang merupakan panggilan beribadah. Merekapun segera melaksanakan shalat dzuhur yang dpimpinoleh tetua desa itu, yaitu Ki Sanak. Setelah selesai shalat, merekapun segera santap siang yang telah disajikan perangkat desa dibantu dengan beberapa warga. Saat sedang menyantap siang, terjadi pembicaraan yang singkat antara kepala desa, Ki Sanak, komandan tentara dan komandan polisi. Setelah selesai santap siang, mereka kembali berkumpul ke balai desa. Lalu oada kesempatan itu, kepala desa memberi kesempatan Ki Sanak untuk berbicara
"Saudara-saudaraku yang terkasih. Assalamualaikum Warahamatulahi Wabarakatuh. Alhamduliah hirabil alamin pada siang ini kita masih diberi kesempatan untuk berkumpul di balai desa ini dengan keadaan sehat wal afiat. Saat ini, ijinkan saya berbicara sebentar untuk menyikapi hal yang tadi telah diutarakan oleh bapak kepala desa dan bapak komandan tentara. Saya rasa, kita tidak perlu panik dan takut menghadapi ancaman ini. Yang oenting adalah kita berusaha menjaga agar warga desa kita tidak panik dan takut sehingga mereka dapat melakukan kegiatan mereka seperti biasa. Masalah desas-desus itu sudah ada yang menangani jadi tenang saja. Tinggal kita memberikan pemahaman yang benar kepada warga agar tetap tenang. Jangan sampai karena desas-desus itu, warga jadi panik dan takut. Apalagi ada pihak yang tak bertanggung jawab memanfaatkan situasi seperti ini untuk memperkeruh suasana dengan meberitakan yang tidak benar yang semakin membuat takut warga, apalagi dengan berita yang meneror warga hingga warga merasa amat sangat ketakutan. Nanti dari pihak tentara dan polisi akan berpatroli menjaga keamanan lingkungan desa kita."
Para hadirin saling bertatap muka sambil mengangguk-anggukan kepala. Akhirnya merekapun setuju. Lalu menjelang sore, pertemuan itu selesai. Dan merekapun kembali ke tempat mereka masing-masing, demikian juga Ki Sanak, beliau segera kembali ke rumahnya. (Bersambung....)
Comments
Post a Comment