Sekelumit Kisah Kelam di Tanah Pendekar 001
003
Keesokan harinya, para warga tetao menjalankan aktifitas seperti biasanya. Seolah mereka tidak terpengaruh dengan kabar desas- desus yang berdedar. Rupanya semalam Ki Sanak itu telah mengumpulkan para warga selepas shalat Isya. Mereka telah diberi pemahaman oleh kepala kampung itu dan mereka hanya mematuhi apa yang disampaikan oleh kepala kampung itu.
Sementara itu, di kampung itu tinggal sebuah keluarga kecil. Mereka hidup sederhana, Sang ayah hanya bekerja sebagai buruh tani, sang ibu hanya sebagai ibu rumah tangga yang terkadang menjadi tenaga kerja serabutan di tempat kepala kampung. Mereka memiliki dua orang anak, yang besar adalah perempuan berusia 12 tahun dan adiknya laki-laki baru berusia 9 tahun. Mereka cukup bersahaja dan mencukupkan diri dengan apa yang ada. Boleh dibilang sang ayah ini juga orang kepercayaan kepala kampung. Kedua anaknya juga selalu rajin membantu kedua orang tuanya. Mereka anak yang taat dan berbakti kepada keduanya, juga mereka rajin mengaji setiap selepas maghrib. Kedihupan mereka biasa saja dan sederhana. Mereka juga senang bergaul dengan para warga, bahkan suka menolong apabila ada warga yang sedang membutuhkan pertolongan.
Hari itu kebetulan adalah hari minggu, biasanya di hari itu para warga melakukan kerja bakti. Pada saat kerja bakti itu ada beberapa warga yang sedang bercakap-cakap sambil kerja bakti.
"Den, apa benar desas-desus itu akan benar-benar terjadi?" kata Tono keoada temannya.
"Entahlah, hanya yang kita tahu adalah Ki Sanak sudah memberitahukan dan menghimbau kepada kita semua agar tetap tenang dan waspada saja dan tetap menjalankan kegiatan kita seperti biasa. Tak perlu panik dan takut. Kalaupun nanti terjadi, para tentara akan bertindak tegas menjaga keamanan para warga. Kalau kita ikut-ikutan panik dan takut, justru kita sendiri yang rugi. Tapi kita tetap perlu waspada. Itu yang dipesankan baoak kepala kampung senalam." jawab Yatno temannya itu sambil membersihkan rumput.
"Dan juga setiao oengajian malam Jumat, kita bukan cuma belajar ilmu agama, tetapi juga kita diajarkan untukmemiliki rasa nasionalisme yang kuat. Apalagi bangsa kita ini baru merdeka 3 tahun. Ibarat bayi yang baru lahir masih berusaha merangkak. Bukannya bapak kepala kampung juga seorang pejuang kemerdekaan, bahkan hingga sekarang. Beliau berjuang meski di usia senja. Perjuangan beliau mempertahankan kemerdekaan bukan angkat senjata seperti dulu, tapi beliau mengajarkan nilai-nilai kebangsaan dan nasionalisme kepada kita agar kita memiliki semangat nasiinalisme yang tinggi dan menjunjung tinggi budaya luhur bangsa kita ini. Ya siapa tahu kelak nantinya bangsa kita bisa benar-benar merdeka dan dapat mewujudkan cita-cita para pejuang serta mewujudkan masyarakat yang sejahtera dan berkeadilan sosial bagi seluruh masyarakat Indinesia. Aoalagi di bulan ini, kita juga akan memperingati kenerdekaan bangsa kita. Saat ini kita masih berjuang mempertahankan kemerdekaan kita dari tangan oenjajah yang ingin menjajah kembali bangsa kita ini." timpal Gimin.
"Ya sangat disayangkan sekali apabila ada saudara setanah air bukannya ikut membela dan mempertahankan kemerdekaan ini, tapi malah justru menghancurkan dari dalam dengan pandangan yang berbeda dengan apa yang kita pegang selana ini. Malah mereka dengan kejamnya melakukan tindakan yang diluar batas kemanusiaan yaitu dengam menyiksa dan membunuh orang-orang yang tak sepaham dengan mereka." kata Tono.
"Sepertinya mereka sudah kehilangan akal sehatnya, sudah tidak waras lagi. Benar-benar wong edan dan stres." kata Yatno sambil menghisap rokoknya.
"Yang penting sekarang kita tidak perlu panik dan takut dulu. Hidup mati semua telah ditentukan Allah SWT. Yang kita perlu lakukan sekaramg tetap menjalankan ibadah dan amal perbuatan baik kepada orang lain. " kata Gimin menimpali.
Sejenak mereka bertiga beristirahat sejenak sambil minum kopi dan menikmati pisang rebus yang disediakan ibu-ibu. Rupanyan kepala kampung itu mendengar apa yang mereka bicarakan dan merasa senang karena para warga menyikapi keadaan dengan kepala dingin bahkan saling mengingatkan agar tetap tenang dan waspada.
Hari itu bukan hanya para warga kampung yang melaksanakan kerja bakti, namun dibantu oleh beberapa anggota tentara. Mereka bahu membahu bergotong royong melakukan kerja bakti sembari mereka bercengkerama hangat satu dengan yang lain dan mempererat ikatan persaudaraan di antara para warga dengan para anggota tentara itu, seolah kabar desas-desus yang berhembus kala itu tidak mempengaruhi mereka.
Hari menjelang siang, suara adzan dzuhur memanggil mereka untuk beribadah. Mereka berbondong-bondong segera mempersiapkan diri untuk menghadap Sang Pencipta. Seperti biasa kepala kampung bertindak sebagai imam yang memimpin jalannya ibadah dengan khusuk, mereka beribadah dengam tenang. Seusai shalat, mereka betsama-sama memanjatkan doa untuk kemerdekaan Indonesia dan para pejuang dan berdoa bagi keamanan lingkungan mereka serta tak lupa mereka menaikan sujud syukur atas rahmat dan nikmat Allah SWT. Tak lupa pula mereka memohon ampunan kepada Allah SWT. Setelah selasai menjalankan kewajiban mereka, merekapun kembali ke rumah masing-masing. (Bersambung....)
Comments
Post a Comment