Posts

Kisah Si Kucing Hitam Chapter 002

Merekapun mulai tumbuh besar, terlihat imut dan lucu. Namun semua berubah begitu saja, saat sang induk, Si Abu-abu dan Si Putih dibawa orang entah kemana. Sedangkan Si Hitam, terluput karena waktu itu ia berhasil melarikan diri dan sembunyi. Kini, tinggal ia hidup sendiri sebagai sebatang kara. Selang beberapa waktu kemudian, gubuk yang ia tinggali ternyata akan digusur dan diratakan. Mau tidak mau, Si Hitam harus pergi dan mencari tempat perteduhan yang lain. Maka dimulailah perjalanannya dalam menghadapi keras dan kejamnya dunia. Sebagai kucing yang masih muda, belum banyak pengalaman yang ia dapatkan. Biasanya ia hanya bercengkerama dengan induk dan saudara-saudaranya di gubuk itu. Kenangan yang indah masa lalu bersama dengan mereka. Tanpa sadar, ia menitikkan air mata mengenang hal itu. Banyak sekali memori indah bersama mereka. Saat ia, Si Abu-abu dan Si Putih bermain bersama dan bercengkerama. Apalagi saat berebut tempat untuk menyusui. Mereka berlomba-lomba untuk mendapatkan t...

Kisah Si Kucing Hitam

  Chapter 001 Lahirnya Si Kucing Hitam dan Saudara-saudaranya Terdengar suara mengeong dari seekor kucing. Nampaknya ia sedang berusaha melahirkan anak-anaknya dengan kesakitan dan berjuang antara hidup dan mati. Lalu beberapa saat kemudian, keluarlah mereka dari rahim induknya satu per satu. Satu berwarna hitam, satu berwarna abu-abu dan satu lagi berwarna putih. Sedangkan sang induk berwarna keabu-abuan dengan ada beberapa bagian yang berwarna hitam. Lalu dijilatilah anak-anaknya itu dan menyusui mereka. Ya, anak-anak kucing itu baru lahir. Mata mereka masih tertutup. Kelihatan lucu dan imut. Namun bulu mereka masih agak basah dan berbau amis, maklumlah baru keluar dari rahim. Sang induk melahirkan tiga ekor anak kucing itu. Dengan lahap, anak-anak kucing itu menyusu pada induknya, sedangkan sang induk terlihat kelelahan sehabis melahirkan mereka dan tertidur. Anak-anak kucing itu masih polos dan lugu. Maklum saja, mereka baru hadir di dunia ini, setelah sekian lama ada di rahim ...

Sekelumit Kisah Kelam di Tanah Pendekar

008 Di tengah suasana yang henig itu, akhirnya Ki Sanak angkat suara dan berkata, "Para hadirin yang terhormat, harap kita tetap berusaha tenang dan jangan takut. Kita fokuskan pada kegiatan perayaan kemerdekaan terlebih dahulu. Masalah desas-desus yang beredar, sebaiknya kita bahas setelah perayaan peringatan kemerdekaan nanti. Yang terpenting adalah bagaimana caranya membuat suasana tetap kondusif. Nanti pengamanan akan diupayakan oleh para tentara dan polisi serta dibantu oleh anak-anak padepokan. Untuk memastikan kelancaran kegiatan perayaan peringatan kemerdekaan nanti. Kita tetap percaya bahwa keadaan akan baik-baik saja. Asalkan kita jangan sampai takut dan cemas. Nanti setelah perayaan selesai. Kita akan bahas lagi masalah desas-desus itu. Yang penting perayaan peringatan kemerdekaan nanti berjalan dengan baik dan lancar." Para hadirin yang mendengar itu, mengangguk-angguk setuju. Lalu mereka berdiskusi soal perayaan peringatan kemerdekaan. Terdengar hiruk pikuk disku...

Paradoks Ego

Semuanya percuma dan sia-sia saja... meskipun sampai berdarah-darah... tak ada gunannya... Lalu, buat apalagi coba... Mereka menutup mata dan memalingkan muka... Terlontar cibiran dan sindiran dalam kedok kasih... Sering kali serba salah... Ditinggalkan dan dicampakkan di saat susah... Kalo sudah sukses, juga serba salah... Di kala sukses, mau nolong, tapi saat oranh susah, ga ditolong... Kalo ga nolong, dianhgap sombong... Suatu paradox antara hukum kasih dan tabur tuai... Yang mereka tabur adalah ketidakmauan untuk menolong, ya pastinya yang dituai, saat mereka susah, ga akan ada yang nolong... Tapi... Kalo ga ditolong, dianggap sombong dan tidak mau mengasihi... Pradoks yang komleks... Tak terjangkau oleh akal... Ya, wajarlah...manusiawi... Λυναρ Σολαριυς Moon Lord Lunar Knight 🌙 Saint Haven City

Kisah Sandal Jepit Jelek dan Seorang Pemuda

Kisah Sandal Jepit Jelek dan Seorang Pemuda Ada seorang pemuda yang memiliki keterbatasan fisik. Meski demikian, ia masih punya semangat berkarya. Orangnya lebih cenderung diam dan tak banyak bicara. Pembawaanya kalem, tenang dan sabar. Ia tinggal di sebuah kost-kostan di kota kecil itu. Penghuni kost-kostan tidaklah banyak, hanya beberapa orang termasuk dia. Untuk saat ini, karena keadaannya seperti itu, ia bersistirahat sambil menunggu pemulihan. Namun, ia tak pantang menyerah dengan keadaanya yang seperti itu. Ia berusaha mengerjakan apa yang ia mampu kerjakan walau kondisinya seperti itu. Pemuda itu hanya memiliki sepasang sandal jepit jelek, yang ia bawa kemana-mana untuk mencari apa yang bisa ia kerjakan untuk sekadar makan dan bayar sewa kost. Ia tak merasa malu akan sandal itu, karena sandal jepit jelek itu adalah hasil usaha dan selalu setia menemaninya. Ia meletakkan sandal jepit itu pada tempatnya. Hingga suatu ketika, sandal itu raib hilang entah kemana, padahal itulah satu...

Senja Menjelang Hari Kemerdekaan

Kala senja menjelang peringatan hari kemerdekaan... Angin berhembus sepoi-sepoi menyejukkan... Lampu-lampu mulai menyala... Pertanda malam kan tiba... Suara adzan maghrib mulai terdengar... Memanggil umat untuk mendirikan ahalat dan menuju kemenangan... Esok adalah peringatan hari kemerdekaan negeri ini... Tujuh puluh enam tahun sudah, negeri ini telah bebas dari penjajahan bangsa asing... Kermerdekaan yang diraih dengan perjuangan mati-matian... Bahkan darah tertumpah hanya untuk satu kata... MERDEKA.... Itulah harga mati yang tidak bisa ditawar lagi... Merdeka, bebas dari penjajahan bangsa asing... Namum, Perjuangan masih belum berakhir... Perjuangan untuk keadilan sosial dan kesejahteraan bagi seluruh rakyat Indonesia... Kita memang sudah merdeka.. Namun, Apakah kita benar-benar sudah merdeka? ©Lunar Solarius +6281230188946

Sekelumit Kisah Kelam di Tanah Pendekar 001

007 Suasana di pendopo balai desa sangat hening bahkan hampir tidak ada suara. Beberapa hadirin menampakkan ekspresi yang cemas dan kuatir. Wajar saja, karena mereka merasa takut dan cemas apabila mereka menjadi korban selanjutnya. Sebab, beberapa desa di seberang telah menjadi korban kebiasaban kaum komunis. Mereka yang menjadi korban adalah dari kalangan ulaman, pemimpin desa dan jampung, dan beberapa di antaranya adalah perwira tentara dan polisi. Dan juga ada beberapa juga dari kalangan orang yang terpandang di antara warga kampung turut menjadi korban karena ketidaksepahaman mereka dengan kaum eksteimis sayap kiri. Kebanyakan dari mereka sudah ditemukan sudah lagi tak bernyawa dan sangat mengenaskan. Namun ada pula yang tidak diketahui keberadaanya hingga sekarang. Bahkan jenazah mereka hampir tidak dapat dikenali lagi karena kondisi jenazah yang sangat mengerikan akibat penyiksaan yang kejam dan biadab itu. Malah ada beberapa dari mereka dikubur hidup-hidup sesudah disiksa sedemi...